Kamis, 04 November 2010

menuju haji (1)

akhirnya setelah dua tahun penantian, aku akan mengunjungi kabah, tetapi kali ini untuk haji. senangnya hatiku. semuanya benar-benar mendukung. jadi seharusnya prosesnya semulus jalan tol. tb unit yang sepi pasien, staff perawat yang lebih dari cukup, kepala ruang yang mendukung, dan tentu saja ada teman yang akan menemaniku saat hajian nanti. jadi aku dengan semangat 45 membuat surat pengajuan kepada direktur. tetapi sebelumnya aku membicarakan hal ini kepada teman-teman seflatku bahwa aku mengajak mereka semua untuk berhaji bersamaku. Pasti asyik sekali kami berlima bisa berhaji bersama. tetapi ternyata reaksi dan jawabannya tidak semuanya sesuai dengan pengharapanku. yaitu kalau aku pasti akan langsung setuju. ternyata ada yang masih belum ingin berhaji.

mona: aku ingin berhaji dengan suamiku kelak misky.
nina: nina belum siap mbak, takutnya dah haji masih kecentilan, kan ngga lucu masa dah haji kok masih centil aja, ntar aja sama suami.
siti: siti juga belum siap mbak misky. ntar aja kalau siti dah siap.

tiga orang dah bilang ngga bersedia. ada-ada aja. siapa yang bisa menjamin usia kita sampai ntar kapan itu. soal pergi dengan suami, ya kalau menikah cepat dan waktu sudah bersuami diberi kemampuan, lah kalau tidak juga menikah, atau setelah menikah tidak mampu? lalu ngga siap karena takut masih kecentilan setelah haji, ya itu sih soal belakangan. yang penting kan haji duluan. sungguh alasan yang aneh dan lucu. tapi sudahlah itu bukan urusanku. yang penting sudah kuajak. mungkin memang saat itu belum waktunya mereka berhaji.

tinggal seorang lagi yaitu endang. aku harap dia mau pergi haji denganku, jadi aku mempunyai teman berhaji. aku tidak ingin menunaikan haji dengan orang philipina atau pakistan, kurang nyaman rasanya.

endang: ayo mis...caranya gimana? kapan?

akhirnya ada juga yang mau berhaji denganku. memang selama ini endang lumayan cocok denganku. aku senang menyebutnya my partner in fun... semua yang serba ketawa: telpon2an duty time, chatting padahal kamarnya adep2an, ke pasar, pokoknya partner in fun deh...

akhirnya aku dan endang menghadap khalid yang adalah direktur keperawatanku. dengan membawa request masing2 yang sudah di acc masing2 kepala ruangan. kami pun menuju ke nursing office. ah sayangnya ada si satpam, alias deputy direktur, si upil. sebel. tapi sudahlah kami kan sudah niat berhaji jadi harus berjuang. dan di dunia ini tidak ada yang tidak diperjuangkan.

kami melangkah ke kantor direktur. aku melihat br. khalid sedang duduk di kursi kebesarannya seperti biasa. ah dia itu memang ganteng sekali, setidaknya menurutkua sih. dia itu tinggi, berkulit tan, menurutku warna yang sexy untuk laki-laki, tinggi dan satu lagi, dia itu berkacamata. heartbreaking really.... tapi sebenarnya yang membuatku suka adalah kerah bajunya saja karena sebenarnya dia itu tidak seganteng itu, mungkin karena dia direktur kali ya jadi aku suka atau lebih ke admiring aja sebenarnya, dan tentu saja karena dia itu baik sekali, dia terkenal pengabul semua permintaan perawat.

aku dan endang: assalamualaikum br. can we come in please?
khalid: sure sisters, please come in and have a sit. anything?
kami: we'd like to ask something. we want to perform hajj this year. these are our requests, signed already by our headnurses.
kami pun memberikan request kami itu. dan dia langsung membaca request tersebut.
khalid: ehm... i need to think about it first ok. i need to see the staffing and everything.
kami: you see brother, it signed already by our headnurses. so we are sure there will be no problem.
khalid: yes i know that sister. it signed. but still i need to think about it. ok. please you come again after three days.
kami: ok thanks br. we hope it will be no objection from you.
dia hanya tersenyum. kami ini memaksa sekali ya. mungkin bicara kami halus, tetapi kalau menurut ate genny, bahasaku itu very strong... wow...

selama kami di ruangan direktur itu, si upil itu mondar-mandir ke ruangan direktur. nguping aja. ngga sopan. pasti dia mau mempengaruhi br. khalid biar kami tidak bisa pergi. dasar penjahat. tapi kami tetap berharap kalau br. Khalid akan grant request kami itu.

jam empat sore, telepon ibu asramaku berdering. yang menelepon adalah si upil itu. dia bilang requestku untuk pindah ruangan dikabulkan. aku akan dipindah ke MMW dan itu mulai besok pagi. mendengar hal itu aku merasa senang tetapi juga merasa sedih. aku senang karena akhirnya aku akan pindah dari tb unit yang terisolir itu dan bareng dengan endang, tetapi aku sedih karena itu artinya akan sulit bagi kami untuk berhaji. karena tidak mungkin dua orang perawat dari ruangan yang sama untuk berhaji bersama. dasar licik si upil itu. tetapi daripada diberi MSW mending ke MMW aja deh, setidaknya semua pasiennya rata2 kakek2. soal berhaji akan tetap aku perjuangkan. dia boleh licik, tetapi aku juga tidak kalah cerdik darinya.okelah sekarang aku di mmw tetapi itu tidak akan menghentikan langkahku. semangat!!!

akhirnya sudah tiga hari. Kebetulan kami bertemu dengan br. Khalid di koridor menuju aula untuk menghadiri seminar. Menggunakan kesempatan itu, kami langsung menyampaikan maksud kami yaitu ingin menanyakan bagaimana request haji itu. Dan dia mempersilakan kami untuk bicara di ruangannya. kami melihat2 situasi di nursing office, apakah si upil itu ada di ruangan. ternyata dia tidak ada, ya karena hari itu akan ada acara seminar, jadi dia sibuk mempersiapkan seminar itu di aula. ini adalah kesempatan kami untuk bicara lagi dengan br. khalid tanpa ada penguping.

seperti biasa, setelah berbasa-basi sekedarnya, apa kabar dan ada yang bisa dibantu darinya, kami menyatakan maksud tujuan kami. tapi kecewanya kami. br. khalid mengatakan kalau kami tidak mungkin bisa pergi haji tahun ini karena sekarang kami berada di ruangan yang sama. yaitu di mmw. sebel. dia bilang kalau dia hanya bisa mengabulkan seorang saja. aku dan endang saling beradu argumentasi dengan br. khalid. sampai2 dia mengatakan padaku "dont teach me about the staffing sister. and dont compare me to other hospital's nursing director. kamu kerja di rumah sakitku, jadi ikuti peraturanku." Malu juga dijawab seperti itu, kesel karena tidak diijinkan, sebel pokoknya. tetapi aku tidak membencinya karena pada dasarnya dia adalah orang yang baik dan dia adalah seorang muslim. apalagi waktu akhirnya dia bilang, kalau ada perawat baru yang datang ke BCH, maka dia akan mempertimbangkannya. jadi hanya request endang yang disetujui, sedang requestku di pending dulu. jadi aku berdoa semoga ada perawat baru ke BCH. karena itulah jalannya.
karena endang bilang kalau itu adalah tahun terakhirnya di KSA, jadi aku mengalah. Tapi ternyata endang tidak jadi keluar, dia nambah setahun lagi. Kalau sudah berpikir seperti itu, yaitu ternyata endang ngga jadi keluar, mungkin aku akan marah seumur hidup padanya, aku akan menganggapnya pembohong besar. Bisa2nya dia berbohong agar bisa berhaji. Aku tidak akan menerima alasan apapun darinya. Karena aku sudah mengalah padahal haji tahun itu adalah ideku. Tetapi alhamdulillah aku akhirnya bisa berhaji juga. Jadi tidak terjadilah pertumpahan darah itu. Cieeeee lebay ah.
Setelah mendengar keputusan br. Khalid itu, bahwa dia hanya bisa mengijinkan satu orang yang pergi, hatiku hancur. Air mataku hampir saja tumpah di depannya. Tetapi pantang bagiku untuk menunjukkan air mataku kepada siapapun. Apalagi di depan laki2. Itu bukanlah sifatku. Aku selalu meyakinkan diri bahwa aku strong. Sehancur apapun hatiku, sesedih apapun perasaanku, aku tidak akan menangis di depan orang lain. Dengan menguatkan suaraku, aku hanya bilang ‘kuharap kau pegang kata2mu itu br. Pokoknya kalau ada perawat baru, aku akan langsung datang memintamu untuk menyetujui permintaaan hajiku. Dan saat itu kau tidak boleh bilang tidak.’ Wah kata2ku memang galak sekali ya. Pasalnya kata2 itu aku ucapkan ke seorang direktur. Tetapi tentu saja dengan logat yang biasa saja. Dan br. Khalid menjawab ‘jangan khawatir sister. Akan kupegang janjiku.’

Walaupun hatiku sedih, tapi aku merasa lucu juga. Ketika menghadap br. Khalid di kantornya, ada telepon masuk, ternyata itu si upil. Dia meminta br. Khalid untuk datang ke aula, karena acara harus segera dimulai, karena sudah jam 2 siang. Aku dan endang saling berpandangan dan ingin tersenyum sendiri. Karena senang rasanya membayangkan si upil pasti marah sekali kalau ada yang menemui si direktur tanpa sepengetahuannya. Selesai bicara tentang haji itu, aku dan endang mengikuti br. Khalid ke aula untuk mengikuti seminar. Maklum semua yang masuk sore harus ikut seminar, wajib. Sesampai di aula, si upil melihat kami dengan heran, karena kami ada di belakang si br. Mungkin dia menduga kami sudah bicara dengannya tentang haji dan tanpa sepengetahuannya. Dan memang itu benar adanya.

Karena bicara sendiri tidak berhasil. Aku menggunakan cara lain. Aku meminta tolong salah satu dokter yang sangat berpengaruh di sana. Yaitu dr. Bassem. Apalagi dokter itu adalah chief di tb unit. Jadi dia pasti mengenalku. Sebenarnya aku tidak berani untuk meminta tolong padanya, karena dia seorang mutawa yang sangat dihormati dan sangat menjaga jarak dari perawat perempuan. Tetapi demi keinginanku berhaji, aku beranikan diri untuk meminta tolong padanya agar membicarakan keinginanku untuk berhaji kepada br. Khalid, dan mungkin sedikit memaksa br. Khalid agar menyetujui permintaanku itu. Dan ternyata dr. Bassem dengan senang hati akan berbicara kepada br. Khalid. Dia bilang dia akan bicara dengan very strong kepada khalid. Ah... aku jadi membayangkan seorang dr. Bassem yang adalah orang mesir, dengan logat bicara yang menggebu-gebu, bicara dengan br. Khalid dengan very strong, seperti apa ya suasananya saat itu. heboh pasti... tapi yang penting keinginanku terkabul.
Setelah dr. Bassem bicara dengan br. Khalid, br. Khalid memintaku untuk datang menghadapnya. Mungkin istilahnya dia menegurku kali ya, karena dia bilang kenapa aku harus meminta tolong kepada dr. Bassem hanya untuk masalah haji. Dia merasa malu karenanya. Dia bilang dia juga seorang muslim, dia tahu betapa haji adalah sangat penting bagi setiap muslim. Jadi dia pasti akan mengabulkan kalau memang keadaannya mengijinkan. Dan aku mengatakan alasanku kenapa aku meminta dr. Bassem, mungkin kalau kata2ku tidak didengarnya, mungkin kata2 dr. Bassem akan didengarnya. Bahkan waktu itu aku sempat berpikir akan meminta tolong abu jafar dan direktur rumah sakit untuk bicara padanya. Karena mereka berdua adalah mutawa, apalagi abu jafar adalah kepala mutawa yang sangat disegani dan ditakuti di bch. Tetapi pikiranku itu aku pending dulu. Mereka adalah senjata terakhirku. Tetapi dia tetap berkeras dengan keputusannya, dengan alasan tidak ada perawat baru yang datang. Bahkan seperti membaca isi pikiranku, dia bilang padaku agar tidak usah berpikir untuk meminta tolong siapa2 untuk bicara padanya, karena urusan keperawatan adalah tanggungjawab dan otoritasnya, jadi tidak ada yang bisa mempengaruhinya. Dua kali hancur perasaanku. Semakin kecil harapanku untuk berhaji. Sepulang kerja, di jalan aku menangis sejadi2nya. Bahkan sampai bersuara dan sesenggukan. Untungnya aku memakai cadar, bahkan cadarku itu aku tutupkan ke mataku. Jadi tidak ada yang akan melihatku menangis. Mungkin ada satu dua orang yang mendengarku menangis, tetapi mereka hanya bisa menolehku bingung saja. Senangnya di sana, kau menangis tidak akan ada yang menanyakan kenapa kau menangis, karena hal itu tidak mungkin dilakukan. Jangan pernah mencoba untuk bicara dengan perempuan asing di tengah jalan. Kalau tidak laki2 akan kena masalah. Setidaknya malu besar kalau sampai ada yang melihat.
Hari2 berlalu dan waktu penutupan pendaftaran haji semakin dekat, tetapi tidak datang juga perawat baru itu. Tapi aku tetap terus berdoa. Siapa tahu di detik2 terakhir, mereka akan datang. Allah akan mengirimkan mereka untukku. Anggaplah semua itu hanya semacam ujian untuk menguji seberapa gigih usahaku untuk berhaji. Seberapa sabar diriku terhadap hal ini. Apakah aku akan marah2 seperti orang gila, atau aku akan menyerah begitu saja. Dan akhirnya doaku terjawab. Dua hari sebelum waktu penutupan, datanglah beberapa perawat baru ke bch. Bahkan dua diantaranya ditempatkan di mmw. Ini adalah kesempatanku. Dan aku tidak menyia-nyiakannya. Aku langsung menuju ke br. Khalid.

Dengan ditemani endang, aku menghadap br. Khalid. Dan aku langsung mengatakan maksudku tentang berhaji itu. Aku mengingatkannya bahwa dia sudah berjanji akan mengabulkan permintaan hajiku itu apabila ada staff baru. Apalagi dua orang ada di mmw. Jadi dia harus mengijinkan aku pergi juga bersama endang. Tetapi ternyata tidak semulus perkiraanku. Dia masih ngeles.

Khalid: did i tell that?
Aku: yes. You did. Right endang? You also there that time.
Endang: yes brother. You told that.
Khalid: but sister, they are new.
Aku: yes they are new. But they are also nurses.
Khalid: but sister. They dont know anything yet. How i will allow you to go.
Aku: br. They are new here. But they are nurses. Also they have experiences. So they know everything. What they dont know only the routine of this hospital. But there are supervisors, also the seniors who will teach them everything. So they will know soon.
Khalid: but sister.... banyak yang akan hajj duty, lalu kau minta pergi haji juga, mmw bakalan understaff.
Khalid: tapi kau kan sudah janji kalau ada perawat yang baru kau akan mengijinkanku juga. Dan sekarang mereka sudah datang. Soal staffing itu kan urusanmu. Nanti kalau aku bilang sesuatu kau bilang aku mengajarimu soal staffing....
Khalid: sister... aku itu orangnya terbuka untuk setiap saran. Coba katakan bagaimana menurutmu solusinya tentang understaff ini. Aku akan dengan senang hati mendengarnya.
Aku: benar ngga papa kalau aku bilang.?
Khalid: tentu saja.
Aku: baiklah. Kata dr. Sayed, nanti pas libur haji selama lima hari itu, orang OPD kan juga libur, kau bisa tarik mereka untuk membantu ruangan lainnya. Jadi tidak akan ada masalah understaff.
Khalid: tapi bagaimana aku bisa melakukannya. Itu adalah jatah liburan mereka. Dan orang OPD tahu apa soal kerja di ruangan?
Aku: kau kan direktur. Kau bisa memerintahkan apa saja. Lagipula mereka juga doing nothing selama libur lima hari. Mereka pasti mau. Soal kerja ruangan, mereka pasti tahulah, mereka kan juga perawat. Masa mereka ngga bisa kerja di ruangan mentang2 di OPD. Aku yakin mereka bisa.

Akhirnya dengan senyum, mungkin dianggapnya aku ini lucu, kasihan, menyedihkan kali ya, makanya dia menandatangani request hajiku. Aku tidak peduli apa yang dipikirnya tentang aku.yang penting aku bisa haji. Dan dalam bicara dengannya aku tidak sampai memohon2 berlinang air mata, aku juga tidak melakukan suatu hal yang hina dan haram. Jadi silakan saja dia berpikiran sesukanya. Selesai bertemu dengannya, aku bilang ke endang kalau khalid itu tidak konsisten. Mungkin karena kepalanya kebentur bantal waktu tidur, jadi lupa dia dengan apa yang dikatakannya sendiri. Waktu itu dia marah waktu aku bilang agar memakai staff OPD. Dia bilang dont teach me about staffing, eh sekarang minta saran dan bilang kalau dia itu open for every suggestion. Tapi sudahlah, yang penting aku bisa hajian.

Tetapi dalam menandatangani requestku itu, tidak semulus jalan tol. Dia masih mencoba mempersulitku. Kami harus menunggu sampai lecture selesai. Padahal aku harus masuk sore. Jadi endang lah yang memintakan tanda tangannya. Dan bagus sekali, banyak sekali penolong endang. Ada si cantik khalid almoteri, ada a’aziz al apa ya aku ngga tahu. Mereka lah yang mengatakan kepada br. Khalid untuk menandatangani saja requestku itu. Kata mereka ‘sudah tandatangani saja. Kasihan sekali mereka ingin haji. Toh hanya dua orang yang pergi, ngga masalah lah.’ Jadi akhirnya tertandatanganilah requestku itu. Dalam hati aku berterimakasih juga kepada kedua orang itu, walaupun aku tidak pernah mengatakannya secara langsung, karena aku tidak mengenal mereka.

Karena requestku itu ditandatangani sudah jam tiga sore, dan juga aku harus masuk sore, maka aku terpaksa menyerahkan request itu ke bagian koordinator haji dan umroh untuk didaftarkan ke panitia haji. Untungnya penutupan pendaftaran haji masih sehari lagi yaitu besok. Jadi tidak apa2, aku sedikit lega. Jadi keesokan harinya, pagi2 jam 8 aku langsung pergi ke koordintor itu yaitu sister zenaida. Tetapi sayang seribu kali sayang, setelah sister zenaida menelepon abu rayyan, dia mengatakan padaku kalau sudah tidak ada tempat lagi buatku. Rasanya aku ingin meledak. Aku marah, aku sedih, pokoknya sediiiiiih banget. Walaupun aku ingin menangis sebenarnya, tetapi aku tahan. Yang ada aku hanya menangis yang dibuat2. Melihat itu, sister zenaida kembali menelepon ke abu rayyan, dia bilang ‘abu, anaknya nangis nih, gimana? Kasihan, dia pingin banget pergi haji.’ Tetapi abu rayyan tetap mengatakan tidak bisa. Benar2 hancur hatiku. Dengan lemas aku keluar dari ruangan sister zenaida. Dan saat itu juga aku benar2 meledak. Sambil berjalan menuju asramaku, aku menangis sejadi2nya. Aku tidak perduli ada orang yang memperhatikan. Sambil menangis, aku menggoblok2kan si khalid, karena dia selalu menurut sama si upil. Dan aku mengutuk dengan kutukan terkejam kepada si upil. Aku berharap dia hipertensi, stroke, terus bedridden, dirawat di fmw biar tahu rasa, terus dekubitus, dipasangi ngt, tracheostomy, kateter, pokoknya menderita banget sebelum akhirnya mati menyedihkan. Tidak apa2 toh dia kan bukan muslim dan yang paling penting dia bukan orang indonesia.

Sesampai di asramaku, aku belum berputus asa. Aku mencoba menghubungi abu jafar di kantornya. Ternyata yang menjawab teleponku adalah abu rayyan lagi. Aku malu sebenarnya karena ketahuan betapa aku ini pemaksa sekali, tidak bermalu, dan sangat menyedihkan. Dia bilang ‘sister, gabel ana kalam, khalas mafi makan. Keif inti ruh haj? Maalis ya sister, mumkin tani sanah. Maalis ya sister.’ Tetapi akhirnya sekitar jam 9 pagi, sister zenaida meneleponku dan memberitahuku kalau ternyata aku masih ada kesempatan untuk pergi haji karena masih ada bangku kosong. Ah senangnya. Tidak lupa mengucap syukur, Aku langsung ketawa seperti orang gila. Jadi ingat parikan jawa ‘kemis minggu, bar nangis ngguyu’. Dan sister zenaida memintaku untuk segera membawa surat2 yang diperlukan untuk haji. Uang pendaftaran 3500, surat tanda sudah menerima vaksin meningitis, hepatitis, influenza, golongan darah, dan tentu saja requestku yang sangat berharga. Setelah mengurus semua surat2 itu, yang artinya harus disuntik untuk vaksin, aku segera memberikan semuanya kepada sister zenaida. Yang nantinya dia akan memberikan ke abu rayyan. Sepulang dari kantor sister zenaida, aku bertemu dengan abu rayyan, dan aku pun bertanya benarkah kalau aku masih bisa ikut haji. Karena walaupun aku sudah memberikan semua surat2 yang diperlukan aku tetap tidak bisa percaya kalau akhirnya aku terdaftar juga, yang itu artinya adalah aku akan berhaji. Dan abu rayyan hanya bilang insyallah. Aku tidak puas dengan jawaban insyaallah tetapi sudahlah yang penting aku berhaji, karena biasanya orang indonesia mengatakan insyaallah untuk tidak menepati. Jadi aku ingin jawaban ‘ya’ darinya. Padahal di sana, insyallah itu artinya ya, pasti. Karena insyaallah itu artinya kalau Allah mengabulkan.

Sekarang setelah terdaftar tinggal menunggu waktu keberangkatan. Sekarang yang pusing adalah si mutni. Kepala ruang mmw. Karena dia selama musim haji akan kekurangan empat orang staffnya. Yaitu aku dan endang yang akan pergi haji selama seminggu, dan dua orang lagi yang akan pergi hajj duty selama dua minggu. Belum lagi ada beberapa yang masih cuti. Jadi sebenarnya benar2 understaff. Dan dua orang pakistan baru itu benar2 tidak tahu apa2. Padahal mereka bilang punya pengalaman kerja selama 15 tahun. Tetapi pekerjaannya tidak ada yang beres. Tetapi aku tidak mau tahu, yang penting aku tetap pergi haji. Egoislah sekali-kali tidak apa2, apalagi untuk urusan ibadah. Tetapi tetap saja aku dan endang merasa tidak enak juga. Karena sudah understaff, staff yang ada juga masih junior semua. Aku jadi ingat waktu aku ditanya br. Khalid tentang staffing di mmw. Waktu itu aku bilang kalau di mmw masih banyak staff yang capable. Aku ambil saja contoh mohd ndeweh-man. Walaupun aku tahu sebenarnya dia itu nyeleneh, males, cuek, nyebelin banget. Tetapi aku kasih saja namanya. Aku bilang saja kalau dia itu sebenarnya berkemampuan. Ceritanya aku menyanjung orang sebangsanya br. Khalid biar dia senang. Dan hal itu aku utarakan ke mutni. Dan mutni bilang kalau hal itu tidak masalah baginya selama si ndeweh-man itu mau masuk pas liburan haji. Untungnya si ndeweh-man mau ngalah, walaupun sebelumnya sudah membuatku kesal dengan mengatakan kalau dia juga mau berumroh. Tetapi ternyata dia datang duty juga waktu aku dan endang berhaji. Tambah satu lagi orang yang aku ucapkan terima kasih, walaupun dalam hati, karena mengucapkan terima kasih langsung padanya hanya akan membuatnya besar kepala dan semakin mengesalkan.

Sekarang semua sudah beres. Sudah terdaftar, jadwal fixed, aku bisa pergi haji. Tidak perduli mmw mau kaya kapal pecah, yang penting haji dulu aja deh.....

Bersambung.....